081-5678-1414-8

Kontak Kami

Menulislah mulai sekarang!

Monday, January 8, 2018

Celoteh Si Bungsu

Malam ini gelap menerpa rumah mungil ini. Listrik padam sejak siang tadi. Gerimis yang datang semakin menambah semangat untuk istirahat lebih awal malam ini. Namun, celoteh si bungsu membuat saya harus mengetik tulisan ini di layar HP yang saya miliki.

Sepulang dari shalat Isya, saya temui Salma, anak ketiga saya, sedang tidur sendirian sambil terisak-isak. Saya pun tanya, mengapa dia menangis. Ternyata baru saja dia ribut dengan adiknya, Wafa si bungsu (insyaallah).

Saya pun menanyakan apa yang baru saja terjadi pada istri yang sedang menemani si bungsu tidur. Kata istri saya, si bungsu dan kakaknya berebut umminya. Mereka ingin ditemani umminya menjelang tidur malam ini. Namun, mereka memilih kamar yang berbeda. Artinya, umminya harus memutuskan menemani salah satu dari keduanya karena tidak mungkin membagi badannya menjadi dua.

"Apa abi  biar cari ummi satu lagi biar gak rebutan?" tanyanya pada si bungsu. "Aku pilih ummi yang lawas saja," sahut si bungsu. "What?" pikir saya. Entah kenapa tiba-tiba umminya anak-anak berkelakar seperti itu. Semoga bukan karena dua judul buku dari penulis yang sempat kami sunting baru saja.

Saturday, December 30, 2017

Bukan Sekadar Resolusi

Menjelang berakhirnya 2017 banyak ditemukan tulisan mengenai resolusi 2018. Resolusi merupakan pernyataan tertulis berisi target yang akan diraih di tahun tertentu. Jika disebut "resolusi 2018", tentu saja memuat target yang bakal dicapai di tahun itu.

Sembari menunggu datangnya rombongan kirab pengantin pagi ini, saya mencoba menulis mengenai resolusi. Satu tahun telah kita lewati, banyak yang dapat ditulis tentunya. Saya pun mencoba menentukan keyword atau kata kunci apa saja yang mendominasi perjalanan saya di 2017 ini. Saya pun menemukan kata-kata kunci itu, yaitu: pembelajaran, literasi, buku, komunitas dan organisasi guru, serta angka kredit.

Pembelajaran 2017

Awal 2017 yang lalu adalah titik balik perubahan mendasar dalam pembelajaran yang saya kelola. Setelah dua belas tahun mengajar di SMP Negeri 2 Paranggupito, saya pun mendapat kesempatan mengajukan mutasi ke SMP Negeri 1 Baturetno.


Pengalaman mengajar di sekolah yang baru ini ternyata luar biasa. Tentunya bukan bermaksud menafikan sekolah sebelumnya.  Semua pengalaman mengajar ini saya tuliskan di buku saya "Guru Desa Membelah Angkasa".

Literasi

Kata kunci berikutnya setelah pembelajaran adalah literasi. Tahun ini saya mendapat kesempatan dari pemerintah untuk mengikuti Workshop Literasi bagi Guru SMP Berprestasi. Kegiatan yang digelar di Batam ini menghadirkan guru-guru alumni berbagai lomba guru tingkat nasional.


Tak berhenti sampai di sini, saya pun terpilih menjadi finalis Diseminasi Literasi Nasional yang digelar Kemendiknud. Acara yang dilaksanakan di Jakarta Oktober 2017 lalu ini begitu berkesan bagi saya. Di ajang ini saya bisa belajar dari para guru penulis dari seluruh Indonesia.

Buku

Tahun ini menjadi awal bagi saya dalam dunia menulis buku. Buku perdana "Guru Desa Membelah Angkasa" bisa diterbitkan tahun ini. Buku ini pun sudah terkirim ke berbagai pelosok tanah air.


Buku kedua berjudul "Menjadi Ilmuwan Cilik" juga siap diluncurkan. ISBN buku ini sudah terbit Desember 2017 ini. Rencananya, awal 2018 buku kedua ini siap naik cetak dan dapat dinikmati pembaca.

Komunitas dan Organisasi Guru

Tahun ini saya mendapat kepercayaan menjadi ketua MGMP IPA SMP. Meski hanya ditingkat subrayon, yaitu gabungan tujuh kecamatan di daerah saya. Saya pun terus mencoba berbuat yang terbaik di amanah ini.


Lantas, bagaimana dengan organisasi profesi guru? Sampai dengan akhir tahun ini, saya masih memutuskan untuk tidak menjadi pengurus organisasi profesi mana pun. Saya memilih aktif di komunitas guru, tentu ada beberapa alasan yang mendasarinya.

Angka Kredit

Sengaja saya tuliskan angka kredit sebagai salah satu kata kunci. Nilai angka kredit yang tidak sesuai harapan masih mewarnai perjalanan saya di 2017 ini. Tentu ini menjadi PR bagi saya.


Kiranya tidak ahsan jika saya tulis secara detail perjalanannya. Biarkan ini menjadi cambuk bagi saya agar bisa terus berkarya. Namun, prinsip saya masih sama, angka kredit bukan muara dalam berkarya. Biarkan itu sekadar nurturant effect dalam karya kita.

Inilah Resolusi 2018 Itu

Saya tak mau muluk-muluk berbicara mengenai resolusi 2018. Saya hanya ingin terus berkarya. Saya ingin mengajar lebih baik lagi. Saya hanya ingin terus bermanfaat bagi sesama. Saya ingin lebih dekat dengan keluarga. Saya ingin lebih serius dalam dunia penulisan dan blog.


Dalam dunia penulisan buku dan blog ada dua target yang saya pasang:

Pertama, mendirikan penerbit buku. Self publishing ke depan akan lebih saya tekuni. Salah satu impian itu adalah memiliki penerbit sendiri. Saya pun mulai mengumpulkan info terkait hal ini.

Kedua, saya ingin kembali menekuni blog saya. Domain SangPengajar.com harus "beranak" lagi. Setelah lahirnya http://kolom.sangpengajar.com/ harus lahir subdomain lainnya. Tentu dalam kerangka  entrepreneurship atau tepatnya teacherpreneurship.

Keduanya mewakili resolusi saya di 2018. Tentu saja bukan berarti tidak memiliki target lainnya. Target sebagai guru, sebagai ayah, sebagai suami, dan sebagainya. Semuanya telah tertata rapi. Semoga dimudahkan-Nya!

Wednesday, December 27, 2017

Mengupas Tuntas Problematika Penulis

"Bila Anda ingin sekali membaca sebuah buku, tetapi belum ada yang menulisnya, Anda harus menulis buku itu"

Kutipan di atas membuka tulisan Eko Prasetyo di bukunya yang saat ini banyak diburu para penulis. Kutipan dari Toni Morrison ini seakan menjadi cambuk bagi para penulis untuk terus berkarya. Buku "Jangan Cuma Pintar Menulis" ini memang memuat motivasi menulis, metode, problematika dan juga tips dalam menerbitkan buku.

Mengupas Tuntas Problematika Penulis


Buku ini ditulis dalam lima bab. Paling awal penulis memaparkan tentang problematika menulis. Judul buku "Jangan Cuma Pintar Menulis" diambil dari tulisan pertama di bab kesatu ini.

Motivasi diberikan oleh penulis di artikel "Jangan Cuma Pintar Menulis" ini. Sebelum membeli buku ini, saya berpikir judul buku ini memang menarik. Kalimat yang diangkat adalah kalimat yang seakan belum selesai. Sepertinya judul ini memang dipilih agar para pembaca penasaran untuk memiliki dan membaca buku ini.

Judul buku ini diangkat dari nasihat yang diterima penulis. Mas Eko, begitu saya biasa memanggilnya, adalah mantan jurnalis Jawa Pos. Dia mendapatkan nasihat dari jurnalis senior Jawa Pos dan seorang penulis buku-buku biografi asal Medan.

Nasihat itu dia paparkan dalam tulisan yang mengawali bukunya ini. Nasihat bagi para penulis agar tak sekadar pandai menulis, namun....

Sengaja tidak saya  selesaikan agar para pembaca penasaran dan membaca bukunya. Buku ini sangat tepat dibaca para penulis, terutama penulis pemula (seperti saya).  Beragam masalah yang dihadapi penulis dikupas dalam buku ini.
Masalah yang dikupas antara lain: penulis hanya mampu menulis namun tak mampu menerbitkan naskah, penulis tak bisa kaya, motivasi hilang saat tak dibayar, sulit tembus penerbit, minimnya jiwa entrepreneur, dan sebagainya. Semua masalah itu dikupas beserta solusinya.

Problematika menulis baru satu dari lima bab yang disajikan. Di bab selanjutnya kita akan mendapat pencerahan tentang dunia menulis. Apa saja solusi dari problematika di atas? Apa isi buku ini selengkapnya?

Silakan Anda memiliki dan membaca buku ini. Pokoke Recomended!

Sunday, December 24, 2017

Buku Perdanaku Sampai ke Natuna

Pagi ini ada kegembiraan yang tak ternilai. Hari libur tidak menjadi penghalang pengiriman buku perdana saya. Buku "Guru Desa Membelah Angkasa" hari ini sampai di tangan guru asal Kepulauan Natuna.
Buku Perdanaku Sampai ke Natuna

Saya mengenalnya dari Facebook beberapa tahun yang lalu. Mas Yulianto, begitu saya biasa memanggilnya. Guru yang mengajar di Kepulauan Natuna ini aslinya dari Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri. Dia mengajar di Kepulauan Natuna bersama istrinya.

Mas Yulianto memesan buku perdana saya melalui WA. Saya pun menyanggupi bertemu di Baturetno agar dia tidak terlalu jauh ke rumah saya. Meski sebenarnya dia ingin silaturahmi ke rumah sebelumnya.

Ternyata bukan aroma "transaksi jual beli" yang mendominasi saat kami bertemu. Saya banyak bertanya tentang kehidupannya di Natuna. Mas Yulianto dan istri pun banyak bertanya tentang guru berprestasi, literasi, lomba-lomba, sampai sertifikasi dan linieritas. Tak ketinggalan kami juga banyak bicara tentang pembelajaran.

"Di buku saya yang kedua nanti akan dibahas tentang keterampilan proses sains siswa," jawab saya ketika istri mas Yulianto menanyakan bagaimana menjadikan siswa aktif. Saya memang sudah memproses penerbitan buku kedua. Buku "Menjadi Ilmuwan Cilik: Strategi Melejitkan Keterampilan Proses Sains  Siswa" bakal segera diterbitkan. Buku ini mengupas mengenai keterampilan proses sains, keterampilan abad ke-21,  dan literasi siswa.

Pertemuan saya dengan mas Yulianto dan istrinya pun berakhir setelah beberapa lama kami mengobrol. Selamat menikmati menikmati liburan di kampung halaman, Mas Yulianto!

Baturetno, 25 Desember 2017

Monday, December 18, 2017

Di Balik Pengolahan Nilai Siswa

Pembelajaran semester ganjil untuk tahun pelajaran 2017/2018 pun berakhir. Penilaian Akhir Semester (PAS) atau Ulangan Akhir Semester (UAS) menutup rangkaian pembelajaran. Para siswa pun merasa senang karena "beban" pembelajaran semester ini telah usai.
Di Balik Pengolahan Nilai Siswa

Selesainya PAS/UAS menyisakan sejumlah catatan tersendiri bagi saya. Mulai dari pelaksanaan PAS hingga saat pengolahan nilai siswa. Berbagai status di media sosial pun mulai marak dituliskan para guru. Saya memilih menulis di sini daripada sekadar ikut-ikutan menulis status di media sosial.

Catatan paling awal yang saya dapati saat PAS/UAS adalah kesungguhan siswa. Saya menemui banyak siswa di beberapa ruang tes yang merasa pekerjaannya telah selesai meski waktu tes masih tersisa lama. Soal yang seharusnya dikerjakan dalam waktu 120 menit ternyata diselesaikan siswa hanya daam waktu kurang dari 90 menit. Begitu juga soal dengan alokasi waktu 90 menit sering dilahap habis oleh siswa hanya dalam waktu 60 menit.

Lantas, apakah dampaknya? Dampak yang jelas terlihat saat tes adalah suasana ruang tes yang mulai gaduh. Para siswa yang mencoba serius mengerjakan pun menjadi terpengaruh.  Dampak yang lebih terasa (bagi guru) yaitu ketika guru mengoreksi hasil tes siswa. Mengenai ini, kita tentu dapat mempredikasi hasil soal yang dikerjakan terlalu cepat.

Catatan selanjutnya adalah mengenai nilai siswa. Hal ini tidak lepas dari cara siswa mengerjakan saat tes. Sikap merasa sudah sempurna atau merasa sudah cukup puas menjadikan hasil tes tidak optimal. Dampak yang paling terasa yaitu saat pengolahan nilai. Tak heran jika para "pakar excel" pun harus mengeluarkan jurus-jurusnya.

Kedua catatan ini semestinya menjadi perhatian kita bersama. Para siswa mesti bersungguh-sungguh di waktu selanjutnya. Sehigga tidak akan didapati lagi nilai yang rendah atau sikap meremehkan tes. Usaha maksiml harus dilakukan untuk hasil yang terbaik di masa mendatang.

Wonogiri, 18 Desember 2017

Saturday, December 16, 2017

Di balik Persahabatanku dengan Mas Fajar

Pagi ini saya sempatkan membuka Facebook. Media sosial sejuta umat ini mengangkat kenangan yang saya alami enam tahun lalu. Kenangan yang tentu tidak dapat saya lupakan. Tahun itu menjadi awal keberhasilan saya dalam mengikuti ajang lomba di tingkat provinsi.
Di balik Persahabatanku dengan Mas Fajar

Ada satu sosok yang membuat saya terinspirasi menulis pagi ini. Dia adalah sosok guru muda yang tampak memegang piala dan berdiri di samping saya. Wajah guru ini pasti tak lagi asing bagi sebagian teman bergelar P.Hd. (Pemburu Hadiah - red).

Sosok guru muda ini adalah seorang sutradara. Puluhan film pendek sudah dihasilkannya. Beberapa film malah tercatat memenangkan lomba perfilman. Karya terakhirnya diluncurkan tepat menjelang Hari Guru Nasional (HGN) tahun ini.

Sutradara muda itu adalah Fajar Prihattanto. Dia guru Seni Budaya yang ditempatkan satu sekolah dengn saya. Seingat saya tahun 2008 lalu penempatannya. Kami ditempatkan di sekolah sekitar pesisir pantai selatan Kabupaten Wonogiri.

Ada hal unik yang memaksa saya menulis tentangnya hari ini. Enam tahun lalu kami sama-sama menjadi juara di ajang Pemilihan Guru Berprestasi dalam Pembuatan Bahan Ajar Berbantuan Komputer. Ajang yang digelar LPMP Jawa Tengah ini lebih dikenal dengan lomba MPI atau Multimedia Pembelajaran Interaktif.

Satu tahun setelah itu, kami sama-sama memenangkan Lomba Pengayaan Sumber Belajar Provinsi Jawa Tengah. Bedanya, saya di kategori blog guru, sedangkan Mas Fajar, begitu saya memanggilnya, menang di kategori MPI.
Harus diakui saya belajar banyak darinya, mungkin begitu juga sebaliknya. Saya mengenal dasar-dasar desain darinya. Saya belajar Photoshop juga darinya.

Di balik Persahabatanku dengan Mas Fajar

Meski terlihat "akur" di berbagai even, kami sebenarnya sering berbeda pendapat. Terlebih dalam menanggapi isu-isu agama maupun isu nasional. Perbedaan pendapat itu lebih jelas terlihat di dunia maya. Dunia di mana kami lebih bebas bereksplorasi.

Perbedaan pendapat ini tak pernah berakhir buruk. Justru sebaliknya, ketika Mas Fajar mengajukan mutasi  sekolah, saya malah menyusul mutasi ke sekolah yang sama setahun setelahnya.

Kami pun sering tampil kolaborasi di berbagai even. Baik even sekolah maupun lainnya. Saya belajar darinya sampai saat ini. Banyak hal yang masih harus saya "kuras". Mungkin juga sebaliknya..he he..

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan kalimat:

"Meski kita kadang beda, tetaplah menjadi sahabat yang bisa saling berbagi"

Bravo Sutradara Muda!!!

Sukoharjo, 17-12-2017
Rumah Makan SS

Friday, December 15, 2017

LGBT, Putusan MK, dan Gempa Bumi Dahsyat

Gempa besar dirasakan masyarakat di Pulau Jawa. Gempa yang terjadi tengah malam ini membuat sejumlah pihak khawatir. Pasalnya, gempa berkuatan 7.3 SR di kedalaman 105 Km ini dirasakan sama seperti gempa Jogja 2006 lalu. BMKG pun merilis lokasi gempa di 43 km barat daya Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

LGBT, Putusan MK, dan Gempa Bumi Dahsyat
Ilustrasi Sidang MK, Doc. Detiknews

Terjadinya gempa tengah malam ini seakan melupakan kita akan adanya berita  besar yang ramai diperbincangkan.  Berita besar itu adalah tentang keputusan MK yang menolak  permohonan mengadili gugatan agar perzinaan serta Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) bisa dipidana. Keputusan MK pun menuai pro dan kontra.

Keputusan MK ini disambut baik para aktivis gay. Pembina Yayasan GAYa NUSANTARA, organisasi gay di Indonesia, Dede Oetomo menyatakan keputusan MK tersebut adalah contoh yang baik bagi lembaga negara. Dikutip dari Detik.com, Dede mengatakan "Ini contoh baik, satu lembaga negara di atas semua golongan, tidak berpihak ke siapa-siapa," kata aktivis gay ini. Meski sebenarnya menurut penulis penolakan MK itu bisa diartikan berpihak kepada kaum gay.

Sikap kontra terhadap keputusan MK justru ditunjukkan oleh para wakil rakyat. Dikutip dari Republika, Wakil Ketua Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Sodik Mudjahid menilai, putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak perluasan delik perzinaan dan LGBT bertentangan dengan Pancasila. Sebab, dalam Pancasila setiap pernikahan harus ada aturan yang jelas karena ingin membina ikatan keluarga yang utuh.

Kekecewaan juga ditunjukkan Fraksi PKS DPR RI. Dilansir dari Inilah.com, Fraksi PKS  kecewa dan menyayangkan Putusan MK yang tidak mengabulkan permohonan uji materi pasal kesusilaan dalam KUHP. Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini mengatakan materi pemohon berangkat dari realitas nyata perilaku asusila dan amoral yang semakin marak, bahkan mengancam masa depan generasi bangsa yang tidak sesuai dengan karakter Bangsa Indonesia.

Jika mengaitkan antara gempa dan seks bebas, penulis teringat dengan gempa yang mengakibatkan letusan lava serta semburan gas metana dan berakhir dengan terjunnya Kota Sodom bersama penduduknya ke dalam Laut Mati. Gempa ini disebut sebagai azab bagi kaum Sodom yang melakukan praktik homoseksual. Siapakah penduduk Kota Sodom ini? Mereka adalah kaum Nabi Luth yang tinggal di sebuah kota bernama. Dari sinilah praktik homoseksual saat ini kerap disebut sodomi.

Kita tentu saja tidak mengharapkan peristiwa yang sama di negeri ini. Meski sah-sah saja kita menarik benang merah antara LGBT yang merajalela, putusan MK, dan terjadinya gempa bumi dahsyat. Semoga semua ini menjadi pelajaran bagi kita. Regulasi mengenai perzinaan dan LGBT tentu harus diperjelas dalam hukum pidana kita. Sehingga, perilaku terebut tidak semakin merajalela dan meracuni masyarakat. Negeri ini pun dapat dijauhkan dari azab sebagaimana kaum-kaum terdahulu.


Agus Dwianto
Punya tulisan yang ingin dimuat di web ini?. Hubungi kami di link ini:- http://bit.ly/SangPengajar
Mau langganan informasi?